Skip to main content

[PELUANG BISNIS] Kondisi pasar tradisional menjelang lebaran

Menjelang lebaran, fenomena berbelanja dalam jumlah besar merupakan hal yang pasti terjadi setiap tahunnya.Tak terkecuali meningkatnya transaksi di pasar tradisional ketika menjelang lebaran. Jika kamu ingin mengetahui kondisi pasar tradisional dan bagaimana prospektusnya untuk dijadikan lahan bisnis. Simak penjelasan berikut ini hingga tuntas.

peluang bisnis, pasar tradisional, lebaran, sayuran, makanan,

(image : pixabay.com)


Hari minggu 11 Juni 2017, yang bertepatan juga pada hari itu merupakan sekitar pertengahan bulan Ramadhan 1438 Hijriyah.

Memang sudah sangat lama saya tidak datang ke pasar tradisional, dan pada pertengahan Ramadhan (11 Juni 2017) saya menjalankan tugas untuk mengantarkan orang tua saya ke pasar tradisional. Ketika menjelang hari raya Idul Fitri terdapat tradisi untuk membagikan makanan baik berupa bahan makanan mentah (sembako) atau makanan yang sudah matang ke sanak saudara. Dan kami terbiasa berbelanja besar untuk kepentingan itu, karena keluarga atau saudara yang harus dikirimi makanan juga jumlahnya banyak. (Oke, cerita pembukanya cukup sampai disini saja).

Tidak seperti hari biasanya (non-ramadhan), kondisi pasar tradisional yang saya datangi sangat ramai dan penuh sesak di dalamnya. Kebetulan lokasi yang saya datangi di perbatasan Gresik, Jawa Timur. Pemandangan yang tidak biasa ini mungkin terjadi karena efek mau menjelang lebaran.
Saya sempat berkeliling pasar sambil menunggu orang tua saya berbelanja di salah satu stand makanan. Saya coba mengamati, bahwa mayoritas yang banyak di serbu oleh pengunjung pasar adalah toko atau stand yang menjual pakaian. Kemudian setelah pakaian, stand yang ramai pengunjung adalah penjual makanan (jenis makanan ringan/kue) dan bahan makanan (toko sembako). Selain 2 kategori itu, yang selainnya biasa-biasa saja.

Mengapa fenomena ini bisa terjadi di pasar tradisional?


Memang banyak faktor yang menjadikan pasar tradisional ini ramai bahkan penuh sesak. Tapi jika dilihat dalam konteks yang saya ceritakan yaitu ini adalah moment menjelang lebaran 2017, sehingga tidak dapat dilepaskan dari budaya lebaran. Kemudian ada konteks dimana yang saya amati adalah pasar tradisional yang lokasinya memang di pedesaan.

1. Budaya baju baru untuk lebaran

Lebaran identik dengan baju baru, sehingga wajar jika penjual baju di pasar tradisional di serbu oleh pembeli disaat menjelang lebaran seperti ini. Saya mengamati dan mengambil sample beberapa keluarga di pedesaan, yang memang mayoritas sudah menganggarkan dana untuk membeli baju baru untuk anggota keluarganya. Minimal, dalam ekonomi sulit sekalipun mereka berusaha bisa membelikan baju untuk anak-anak mereka agar tidak malu dengan teman-teman dalam pergaulannya.

2. Budaya bagi-bagi makanan menjelang lebaran

Budaya membagikan makanan ke sanak saudara juga menjadi faktor yang membuat pasar tradisional ramai menjelang lebaran. Biasanya bingkisan atau yang dibagikan ke saudara yaitu berisi minimal ada telur setengah kilogram, beras 5 kilogram, mie instan 10 bungkus, gula 1 kilogram, minyak 1 kilogram, dan beberapa kue/roti. Hal tersebut jika yang dibagikan adalah bahan makanan mentah, yang secara budget rata-rata mungkin antara 50ribu hingga 100ribu per bingkisan yang akan dibagikan ke saudara/keluarga.

Yang namanya di desa, umumnya memang keluarga besar berkumpul dalam satu wilayah. Misalnya dalam satu kecamatan, memiliki 10 keluarga atau saudara. Karena pernikahan keluarganya biasanya tidak jauh, atau keluar dari daerah. Sehingga keluarga besar biasanya berkutik disekitar situ-situ saja.
Nah, jika budget per keluarga atau saudara minimal 50ribu bingkisan makanan. Maka jika punya 10 keluarga, maka harus berbelanja 10 kali lipat bingkisan makanan yang nantinya akan dibagikan ke sanak keluarga. Hal ini yang membuat belanja makanan atau bahan makanan besar-besaran di pasar tradisional.

3. Persiapan kue lebaran

Menjelang lebaran, tiap keluarga pasti menyiapkan hidangan ketika lebaran. Apalagi hidup di pedesaan, meja penuh kue lebaran menjadi faktor penting. Bahkan ada yang mengadakan tabungan kue lebaran, seminggu bayar 5ribu rupiah dan menjelang lebaran akan dibagikan kue lebaran sejumlah tabungan yang diperoleh selama satu tahun.

Nah, belanja kue jadi atau bahan untuk membuat kue juga menjadi faktor ramainya pasar tradisional. Misalnya kita ambil contoh tabungan kue lebaran itu tadi, dalam satu minggu membayar 5ribu rupiah, maka dalam satu bulan bisa terkumpul 20ribu rupiah. Dan dalam satu tahun bisa mencapai 200ribu hingga 250ribu rupiah per keluarga di desa.

Budget segitu hanya untuk kue yang membeli atau bahan untuk membuat kue. Hal itu belum sajian selainnya yang bahannya tidak perlu membeli, karena orang desa yang mayoritas petani bisa memproduksinya sendiri. Misalnya kacang bawang, yang memang kacangnya mereka punya sendiri. Belum lagi rengginan yang bahannya dari ketan, dan mereka punya sendiri. Serta tape ketan hitam / tape singkong, serta berbagai jenis keripik yang bisa dibuat sendiri.

Tapi yang pasti meski bisa membuat sendiri, sepertinya kurang afdol jika belum mengeluarkan anggaran untuk beli jajan toplesan kue buat lebaran. Misalnya yang dikemas dalam toples itu Roti kering yang ada gambarnya seorang ibu yang sedang makan dengan anaknya di meja makan, berbagai macam permen, coklat, dan sebagainya.

Mengapa orang-orang beli dipasar tradisional?


Ya memang adanya cuma pasar tradisional, keberadaan minimarket hanya baru hadir beberapa tahun belakangan ini, serta tidak adanya supermarket seperti kota besar. Tapi pasar tradisional tidak kehilangan pesonanya bagi masyarakat yang ada di desa.

Pilihannya cuma pasar tradisional yang serba ada dan bisa nego, minimarket yang tidak bisa nego dan juga tidak lengkap, serta toko atau kios rumahan  diluar pasar tradisional.

Ya itulah pesona pasar tradisional dibanding tempat lain, yaitu harga bisa nego serta pilihannya banyak meski harus keliling untuk mencari barang dan harga terbaik.

Meski kadang ada lucunya, yaitu misalnya supplier baju di stand pasar tradisional adalah sama. Jadi banyak baju yang dijual itu sama, sehingga ketika lebaran banyak yang menggunakan baju yang sama. Sehingga terkesan seperti menggunakan seragam ketika lebaran.


Kenapa mereka tidak membeli secara online?


Hal ini pernah saya tulis di artikel sebelumnya tentang karakter orang yang membeli produk online. Orang desa yang memang awam akan jual beli online, akan sangat kesulitan dalam melakukan transaksi online. Disamping itu juga masih adanya paradigma transaksi langsung yaitu ada barang ada uang.

Baca  juga2 Jenis Perilaku Konsumen Online di Indonesia

Jadi faktor awam itulah yang menjadikan pasar tradisional menjadi sangat menarik untuk di datangi oleh masyarakat pedesaan.

Secara teknologi, memang sudah memasuki masyarakat di pedesaan. Misalnya saja smartphone android yang sudah tidak asing di pedesaan beberapa tahun terakhir. Tapi pengggunaannya hanya sebatas untuk melakukan telpon, dan sms pun yang mampu melakukan hanya anak muda saja. Karena yang tua kesulitan untuk mengetik, serta membaca sms.

Bagaimana dengan internet di desa? Hal ini sama juga sudah masuk ke pedesaan melalui perangkat android, buktinya banyak orang-orang desa yang memiliki akun facebook. Tapi mayoritas penggunanya yaitu anak-anak muda saja.

Jadi internet hanya digunakan sebatas untuk sosial media yaitu facebook. Sedangkan untuk melakukan transaksi, masih sangat jarang terjadi. Dan mungkin akan terus berkembang beberapa tahun kedepan nanti.

Jadi seperti itulah gambaran pasar tradisional di pedesaan ketika menjelang lebaran. Jadi yang ramai bukan hanya pasar online, tapi pasar tradisional masih sangat diminati oleh segmennya.

Comments

Popular posts from this blog

Cara membuat blog dengan konten yang menarik dan berkualitas

Blog ini memang masih baru dan fresh, tapi bukan berarti blog ini blog pertama saya. Saya sejak 2009 saya sudah mengenal blog ketika mengerjakan tugas sekolah, dan itu menjadi pengalaman pertama saya membuat blog dan konten blog. Blog pertama yang merupakan project untuk ujian sekolah sudah lama tidak diurus bahkan sampai sekarang sudah lupa akun email dan passwordnya.

Ketika masih kuliah pernah iseng membuat blog lagi, tapi isinya bukan cerita pribadi seperti blog yang baru dibuat ini. Blog iseng tersebut jadi bahan percobaan pribadi, dengan menggunakan TLD (Top Level Domain) dan juga paket hosting murah meriah. Tujuannya cukup sederhana yaitu memenuhi rasa ingin tahu saja. Dan itu bertahan hingga sekarang, mungkin sudah berjalan sekitar 3 tahunan meski update kontennya kembang kempis tergantung kesibukan dan juga mood.

(Gambar : flickr.com)

Membuat blog memang sangat mudah, namun mengembangkan blog sehingga banyak yang membaca itu merupakan pekerjaan yang susah serta butuh proses ya…

Strategi jualan online di fanpage facebook untuk pemula

Seperti yang banyak diketahui oleh banyak orang, bahwa berjualan adalah aktifitas memberikan produk atau layanan tertentu dengan imbal balik bisa berupa uang, barang atau juga apapun yang sesuai. Kalau kita lihat saat ini memang terjadi dua tren berjualan yang menjadi andalan para pelaku usaha. Yaitu jualan dipasar tradisional, toko, warung, atau lapak-lapak yang bersifat offline. Sedangkan jualan yang bersifat online hampir sama sebenarnya dengan jualan offline, yang membedakan adalah penggunaan teknologi internet serta jangkauan yang tidak terbatas pada daerah tertentu saja.
Misalnya yang dulu mungkin orang berjualan tas hanya ada di toko tas, pasar, bahkan supermarket dan sebagai pembeli kita hanya bisa membeli dengan datang ke toko tersebut dan transaksi bisa dilakukan disana. Saat ini untuk membeli tas tidak perlu datang ke lokasinya secara langsung, karena banyak penjual tas yang mempromosikan barang dagangannya secara online. Sehingga sebagai pembeli kita bisa melihat tas yang …

Belajar dari kesalahan strategi online marketing dengan sosial media

Kalau tidak salah di awal 2017 saya menjumpai kejadian yang cukup miris dan kasihan di facebook dan LINE. Bagaimana tidak miris coba, teman saya sendiri dicaci maki oleh banyak orang dan bahkan ada yang mengeluarkan kata-kata mutiara atau misuh (baca : mengumpat). Bayangkan saja, bagaimana jika kamu melihat teman mu dicaci maki seperti itu.



Tapi jangan mudah menyimpulkan dulu dan menyalahkan orang yang misuh-misuh itu. Lihat dulu kronologisnya dan kejadiannya, kumpulkan fakta-faktanya seperti film detektif Conan edogawa. Kemudian analisa dan simpulkan siapa yang memulai munculnya kata-kata mutiara tersebut. Nah dari pada kamu pusing memikirkan bagaimana ceritanya, lebih baik saya yang akan berbagi cerita dengan pembaca sekalian.

Kejadian pertama teman saya memanen kata mutiara di LINE. Awalnya saya kaget karena LINE saya terus-terusan bunyi tanpa henti, seperti ada sangat banyak pesan yang masuk. Dan setelah saya lihat ternyata ada sebuah chat group yang masih baru dibuat dan berisi p…